MAKALAH PENGARUH MEDIA TELEVISI TERHADAP PERILAKU REMAJA

PENGARUH MEDIA TELEVISI TERHADAP

PERILAKU REMAJA

 

 

 

 

Oleh

LATHIFFIDA NOOR JASWANDI

I34100156

 

 

 

 

Dosen

Dr. Ekawati Sri Wahyuni, MS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

 

 


ABSTRAK

 

Media massa merupakan mediasi dalam komunikasi massa untuk menyebarkan informasi kepada khalayak. Media massa terbagi menjadi media massa elektronik dan cetak. Media massa elektronik khususnya televisi memilki kelebihan tertentu yang membedakan dengan media massa elektronik yang lain. Kelebihan yang dimiliki televesi menjadikan televisi memiliki daya tarik yang kuat dalam kehidupan khalayak. Sehingga khalayak merasa sangat membutuhkan televisi sebagai sumber dari seluruh informasi. Ketergantungan akan khalayak terutama remaja terhadap menonton televisi dapat berpengaruh terhadap perilaku remaja. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengkaji pengaruh menonton televisi dengan perilaku remaja. Metode yang digunakan pada makalah ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang dipeoleh dari tulisan ilmiah maupun buku yang mendukung. Hasil yang dibahas dalam makalah ini menunjukkan adanya pengaruh menonton televisi terhadap perilaku remaja. Dengan masa remaja yang memilki tingkat emosional yang belum stabil dan sedang dalam masa pencarian identitas, sehingga remaja mudah terpengaruh dengan faktor luar yang mereka anggap sebagai hal baru, salah satu faktor luar tersebut adalah media elektronik.

 

Kata kunci: media massa, televisi, remaja, perilaku

 

 

Kata Pengantar

 

 

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Berpikir dan Menulis Ilmiah berjudul ”Pengaruh Media Televisi Terhadap Perilaku Remaja” dengan baik. Makalah Berpikir dan Menulis Ilmiah ini merupakan salah satu syarat kelulusan MK Berpikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) pada Departemen Sains Komuikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Penulis mengucapkan terimaksih kepada Dr. Ekawati Sri Wahyuni, MS selaku dosen MK Berpikir dan Menulis Ilmiah. Tiara Anja Kusuma, asisten praktikum MK Berpikir dan Menulis Ilmiah atas bimbingan, kritik dan saran yang diberikan dalam proses pembuatan makalah ini. Penulis juga mengucapkan terimaksih kepada kedua orangtua dan keluarga atas dukungan moril dan kasih sayangnya. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang sudah memberi semangat dan dukungan kepada penulis dalam pembuatan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pihak

 

 

Bogor,  Maret 2012

 

 

 

 

Lathiffida N.J

NIM. I34100156

 

 

DAFTAR ISI

 

ABSTRAK.. i

Kata Pengantar ii

DAFTAR ISI. iii

DAFTAR TABEL.. iv

PENDAHULUAN.. 1

Latar Belakang. 1

Rumusan Masalah. 1

Tujuan. 1

ANALISIS. 2

Komunikasi Massa dan Perilaku Remaja. 2

Pengaruh Media Televisi Dengan Perilaku Remaja. 4

SIMPULAN.. 6

DAFTAR PUSTAKA.. 7

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1 Tujuan Menonton Televisi 5

Tabel 2 Frekuensi Menonton Televisi Kekerasan. 5

 


PENDAHULUAN

 

Kelebihan dari media massa inilah yang membuat masyarakat merasa sangat membutuhkan media massa dalam menerima berbagai informasi, pengetahuan, dan hiburan dimana saja dan kapan saja dalam waktu yang bersamaan. Keadaan masyarakat yang merasa membutuhkan media massa, di dukung oleh sifat manusia yang membutuhkan informasi dan hiburan yang sangat dirasakan penting bagi manusia untuk memenuhi rasa keingintahuan mereka (Tumengkol tidak ada tahun). Oleh karena itu, media televisi merupakan salah satu media elektronik yang sangat digemari oleh masyarakat umum terutama kalangan remaja.

Kegemaran remaja menonton televisi ini, dapat mempengaruhi perilaku remaja tersebut dari acara yang mereka tonton di televisi. Acara yang ditonton oleh remaja, baik acara yang bersifat memberi informasi dan pengetahuan sampai acara televisi yang memberi tayangan tentang kehidupan masa remaja yang berkonotasi negatif. Mudahnya remaja terpengaruhi oleh acara yang mereka lihat ditelevisi dapat disebakan oleh masa remaja yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa (Iskandarsyah 2006). Pada masa transisi tersebut remaja memiliki tingkat emosional yang belum stabil dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan disekitarnya. Hal ini juga dapat disebabkan oleh masa remaja adalah masa dimana perkembangan sosial sedang dibentuk. Sehingga sangat mudah perilaku remaja terpengaruhi dari kegemaran mereka menonton televisi. Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari tulisan ilmiah maupun buku yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam makalah ini.

Jika ditinjau dari peran media massa yang memudahkan masyarakat umum untuk memperoleh informasi, pengetahuan, dan hiburan. Sekaligus sebagai pemenuhan kebutuhan manusia yang memiliki rasa ingin tahu akan lingkungan disekitarnya. Sehingga khalayak merasa membutuhkan dan harus memiliki media massa tersebut dan biasanya mengakibatkan waktu luang mereka dihabiskan hanya untuk menonton televisi khususnya pada kalangan remaja. Selain itu, ditinjau dari perkembangan sosial remaja yang merupakan masa transisi menuju masa dewasa, sehingga sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan luar disekitarnya. Berdasarkan masalah tersebut,  maka perlu dilakukan pembahasan mengenai bagaimana media massa elektronik berupa televisi memiliki keterkaitan yang dapat mempengaruhi perilaku pada kalangan remaja. Kemudian berdasarkan pembahasan tersebut dapat ditentukan maksud dan tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui keterkaitan yang menghubungkan media massa elektronik berupa televisi dengan perilaku pada kalangan remaja.

                                                                                  

 

 

Komunikasi Massa dan Perilaku Remaja

 

Komunikasi massa

Komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan tujuan dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas. Unsur-unsur penting dalam komunikasi massa adalah:

a)      Komunikator,

b)      Media massa,

c)      Informasi (pesan) massa,

d)     Gatekeeper,

e)      Khalayak (public), dan

f)       Umpan balik (Bungin 2008)

Selain itu, komunikasi massa juga dapat diartikan sebagai proses komunikasi yang tergolong dimediasi oleh media massa, dimana produk-produk informasi diciptakan dan distribusikan oleh suatu organisasi komunikasi massa untuk dikonsumsi khalayak (Ruben 1992).

Berdasarkan pengertian diatas maka penggunaan media massa baik dalam bentuk media massa cetak maupun media massa elektronik termasuk kedalam komunikasi massa. Komunikasi massa menurut yang dirumuskan Charles R. Wright (1985), berdasarkan pada Harold Lasswell (1984) memiliki fungsi, yaitu pengawasan atau pemberitaan (surveillence), kolerasi (correlation), transmisi budaya (cultural transmission) atau sosialisai dan edukasi serta fungsi hiburan (entertainment). Keempat fungsi dari komunikasi massa tersebut dapat dirasakan saat penggunaan media massa masyarakat oleh khalayak. Didalam media massa disajikan berbagai macam informasi dan acara yang dapat langsung diakses oleh khalayak. Hal ini sesuai dengan pengertian dari media massa itu sendiri menurut Bungin (2008) sebagai media komunikasi dan informasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal dan dapat diakses oleh masyarakat secara massal pula.

Media massa terbagi atas dua macam jenis, yaitu media massa cetak dan media massa elektronik. Salah satu dari media massa elektronik adalah media massa televisi. Menurut KBBI (2001:919) televisi adalah pesawat sistem penyiaran gambar objek yang bergerak yang disertai dengan bunyi (suara) melalui kabel atau melalui angkasa dengan menggunakan alat yang mengubah cahaya (gambar) dan bunyi (suara) menjadi gelombang listrik dan mengubahnya kembali menjadi berkas cahaya yang dapat dilihat dan bunyi yang dapat didengar, digunakan untuk penyiaran pertunjukan, berita, dan sebagainya.

Fungsi dari televisi jika dilihat kesesuaiannya berdasarkan UU No. 24 tahun 1997, BAB II pasal 5 berbunyi

“Penyiaran mempunyai fungsi sebagai media informasi dan penerangan, pendidikan dan hiburan, yang memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.” Sehingga dapat dideskripsikan fungsi dari televisi sebagai media informasi dan penerangan, media pendidikan dan hiburan, media untuk memperkuat ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan media pertahanan dan keamanan.” (UU No. 24 tahun 1997)

 

 

 

 

 

 

 

Perilaku remaja

Pengertian dari remaja adalah masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa (Iskandarsyah, 2006). Dengan pengertian remaja tersebut masa remaja umumnya berada pada rentang usia 12-21 tahun, kemudian membaginya menjadi remaja awal usia 12-15 tahun, remaja tengah usia 15-18 tahun dan remaja akhir usia 18-21 tahun (Monks et al. Dalam Asrori 2009 dalam Pinasthika 2010). Pada masa remaja tidak hanya terjadi perubahan secara emosional saja tetapi juga terjadi perubahan secara fisik dan perkembangan seksual remaja. Masa remaja memiliki ciri-ciri tertentu yang dapat membedakan masa remaja dengan masa pertumbuhan yang lain seperti adanya perkembangan fisik, rasa keingintahuan yang besar, memiliki keinginan untuk dapat berkomunikasi dan mendapat kepercayaan dari orang-orang yang lebih dewasa darinya karena merasa sudah dapat bertanggung jawab, adanya perbkembngan intelektual tual, dan sudah mulai berfikir mandiri.

Pada umumnya masa-masa remaja adalah masa dimana remaja sedang dalam pencarian jati diri atau identitas. Dalam pencarian jati diri tersebut remaja memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar tentang lingkungan sekitarnya yang mereka anggap sebagai hal-hal yang baru. Dalam keadaan pencarian identitas ini remaja lebih sering berpatokan pada dunia luar dan lingkungan sosial di sekitar mereka. Sehingga dengan keadaan emosional yang masih labil masa remaja mudah terpengaruh oleh dunia luar yang akan membentuk kepribadian mereka kelak.

Pengertian perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung maupun yang tidak dapat diamati pihak luar (Notoadmojo 2003 dalam Nando 2011). Perilaku remaja adalah kegiatan yang dilakukan oleh remaja yang terbentuk  dengan pengaruh dari faktor perkembangan dalam diri remaja dan faktor perkembangan sosial di lingkungan sekitarnya. Menurut Hurlock (1980) dalam Valentine (2009) perubahan fisik yang terjadi selama tahun awal remaja mempengaruhi tingkat indivisu dan mengakibatkan diadakannya penilaian kembali penyesuaian nilai-nilai yang telah bergeser.

Perubahan perilaku yang terjadi pada remaja dapat dalam bentuk perubahan secara kognitif, afektif, dan konasi. Perubahan kognitif merupakan perubahan dalam pengetahuan tentang suatu hal yang dimiliki. Perubahan afektif merupakan perubahan dalam menyikapi suatu hal. Perubahan konasi merupakan perubahan dalam perilaku atau tindakan dengan menggunakan suatu cara tertentu. Remaja yang sedang dalam masa transisi memiliki beragam tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan mereka, antara lain untuk mendapatkan informasi yang saat ini menjadi topik pembicaraan banyak orang, mendapat hiburan ketika bosan, mencari jalan keluar atas masalah mereka dan memungkinkan sekedar mengisi waktu luang.

 

 

Pengaruh Media Televisi Dengan Perilaku Remaja

 

Media massa merupakan alat mediasi yang digunakan dalam komunikai massa. Media massa dapat dibedakan menjadi media massa cetak dan media massa elektronik. Media massa terdiri radio, film, dan televisi. Kelebihan yang dimiliki oleh media televisi dalam menyebarkan informasi dan menghibur khalayak dibandingkan dengan media massa yang lain menjadi faktor penting alasan ketertarikan khalayak dalam menonton televisi. Televisi menjadi sebuah media massa yang sangat dibutuhkan oleh khalayak dalam memenuhi kebutuhan mereka akan informasi, pengetahuan dan hiburan. Mereka mempresepsikan bahwa seluruh informasi yang mereka dapatkan dari televisi adalah selalu benar. Selain itu, mereka merasa dengan menonton televisi mereka dapat berkomunikasi dengan banyak orang dimana pun dalam waktu yang bersamaan. Sehingga mereka lebih senang menghabiskan waktu mereka untuk menonton televisi dibandingkan mereka membaca buku, koran atau media massa lainnya.

Ketergantungan terhadap televisi terjadi pada seluruh kalangan usia khususnya kalangan remaja. Ketertarikan remaja untuk menonton televisi didorong oleh faktor rasa keingintahuan yang kuat akan segala sesuatu hal yang baru bagi remaja di lingkungan sekitar mereka. Hal ini merupakan bentuk perubahan psikologis pada remaja yang sedang dalam masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Selain itu, faktor lain yang juga mempengaruhi ketertarikan remaja untuk meninton televisi adalah lingkungan sosial disekelilingnya. Berhubungan dengan hal ini, Hurlock dalam Suharto (2006) dalam Valentine (2009) menjelaskan:

’Terdapat beberapa faktor (karakteristik remaja) yang mempengaruhi minat anak hingga remaja pada televisi yaitu: (1) prestasi akademik, (2) penerimaan sosial. Semakin mereka menerima diterima secara sosial maka semakin berkurang perhatiannya pada televisi dan sebaliknya. Artinya ada keinginan remaja untuk memnfaatkan waktu luang yang dimiliki di luar waktu sekolah, (3) kepribadian.’ (Valentine 2009)

Dengan keadaan masa remaja yang sedang dalam masa transisi tersebut juga mempengaruhi tingkat emosional yang masih labil dalam beradaptasi dengan perubahan. Keadaan emosi remaja yang masih labil tersebut maka mereka dengan mudah terpengaruh dengan faktor luar, salah satunya adalah pengaruh dari media elektronik. Menurut Valentine (2009) pengaruh televisi terhadap remaja yakni: (1) pengaruh pada sikap yaitu tokoh pada televisi biasanya digambarkan dengan berbagai stereotip. (2) pengaruh pada perilaku yaitu keinginan anak untuk meniru. Dapat ditambahkan pengaruh pada pengetahuan remaja tersebut.

Berdasarkan dari beragam tujuan yang dimiliki oleh remaja yang sedang dalam masa transisi untuk memenuhi kebutuhan mereka akan informasi yang menjadi topik pembicaraan banyak orang dan untuk mengisi waktu luang mereka menjadi salah satu faktor yang memicu mereka untuk menonton televisi. Selain itu, tujuan remaja menonton televisi adalah untuk mencari hiburan. Hal ini didukung oleh data dari salah satu hasil penelitian sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 1 Tujuan Menonton Televisi

No

Tujuan Menonton

F

             %

1.

Mencari hiburan

48

52

2.

Mencari informasi

30

32,6

3.

Untuk pendidikan

2

2,3

4.

Dll

12

13,1

Jumlah

92

100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Tumengkol 2009

Pada umumnya pelajar menonton TV untuk mencari hiburan (52%), sedangkan yang ingin mencari informasi sebanyak (32,6%) dan hanya 2,3% untuk tujuan pendidikan, selebihnya 13,1% untuk tujuan lain.

Cepat atau lambatnya proses terpengaruhnya perilaku remaja dengan ketergantungan mereka menonton televisi dapat dipengaruhi oleh intensitas atau frekuensi mereka dalam menonton televisi. Hal ini didukung oleh data salah satu hasil penelitian sebagai berikut:

 

Tabel 2 Frekuensi Menonton Televisi Kekerasan

No

Frekuensi Kekerasan

F

           %

1.

Sangat Sering

2

2,3

2.

Sering

39

41,9

3.

Jarang

51

55,8

4.

Tidak Pernah

Jumlah

92

100

Sumber: Tumengkol 2009

Pada umumnya para pelajar ternyata suka menyaksikan tayangan kekerasan (55,8%), bahkan 23,3% sangat menyukainya. Jumlah yang tidak suka lebih sedikit (16,3%) dan sangat tidak suka 4,6%. Dari data hasil penelitian tersebut dapat dinyatakan bahwa intensitas atau frekuensi remaja dalam menonton televisi dapat mempengaruhi besarnya pengaruh televisi terhadap perilaku remaja. Semakin tinggi intensitas menonton televisi maka semakin cepat dan besar pula pengaruhnya terhadap perilaku remaja. Begitu pula dengan keadaan sebaliknya, semakin rendah intensitas menonton televisi semakin rendah pula pengaruhnya terhadap perilaku remaja tersebut.

Pengaruh yang diberikan oleh televisi terhadap perilaku remaja dapat berbentuk pengaruh positif maupun negatif. Pengaruh dapat berupa aspek kognitif yang bersifat positif dengan memberi pengetahuan kepada remaja dengan keadaan lingkungan disekitarnya melalui acara berita ataupun kuis tentang pengetahuan. Selain itu, pengaruh negatif dapat pula berupa aspek afektif dengan meniru apa yang mereka lihat dari televisi tanpa mereka saring terlebih dulu mana yang baik dan mana yang buruk.

 

 

 

SIMPULAN

 

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang tertera diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa terdapat keterkaitan antara pengaruh dari kegiatan menonton televisi dengan perilaku remaja. Masa remaja merupakan masa dimana remaja sedang mencari identitas, maka dengan mudahnya terpengaruh dengan faktor luar. Selain itu, dengan masa remaja yang sedang berada dalam masa transisi, mereka juga memiliki tujuan-tujuan yang dapat dipenuhi dengan menonton televisi, yaitu mencari informasi, mengisi waktu luang dan hiburan. Kemudian besarnya pengaruh menonton televisi terhadap perilaku remaja berkaitan erat dengan intensitas atau frekuensi mereka dalam menonton televisi. Semakin sering menonton televisi semakin besar pengaruhnya terhadap perilaku remaja, begitu pula sebaliknya.  Hal ini terlihat adanya perubahan perilaku baik berupa pengaruh positif maupun pengaruh negatif.

 

Saran

Saran yang dapat diberikan oleh penulis dengan adanya pembahasan diatas adalah remaja lebih cermat dalam memilih informasi yang bermanfaat dan berdampak positif bagi dirinya sendiri. Disarankan agar remaja mencari kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat untuk mengurangi intensitas menonton televisi. Kemudian remaja sudah harus pintar dalam memilih lingkungan bergaul yang dapat membawa pengaruh negatif atau positif.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agung SS, Amanah S, Fatchiya A, Hadiyanto, Kusumastuti YI, Lubis DP, Mugniesyah SS, Purnaningsih N, Riyanto S, Saleh A, Sumardjo. 2010. Dasar-dasar komunikasi. Bogor[ID]: Sains KPM IPB Press

Arkan A. 2006 (Oktober). Strategi penanggulangan kenakalan anak-anak remaja usia sekolah. Kopertis. 4(6)

Bungin B. 2006. Sosiologi komunikasi: Teori, paradigma, dan diskursus teknologi komunikasi di masyarakat. Jakarta [ID]:Kencana Prenada Media Group

Iskandar A. 2006. Remaja dan permasalahannya perspektif psikologi terhadap permasalahan remaja dalam bidang pendidikan. Makalah disampaikan pada ceramah untuk siswa, guru, dan orangtua yang diselenggarakan SMUN 1, 15 Desember 2006, Cibodas-Puncak

Istanto FH. 1999. Peran televisi dalam masyarakat citraan desa ini sejarah, perkembangan dan pengaruhnya. 1(2)

Mulyatiningsih R,dkk. 2004. Bimbingan pribadi-sosial, belajar, dan karier.Jakarta[ID]:PT Grasindo

Nando. 2011. Hubungan antara perilaku menonton film kekerasan dengan perilaku agresi remaja. Kasus Remaja di SMK Pelita Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. [skripsi]. Bogor[ID]:Institut Pertanian Bogor

Pinathika AWK. 2010. Hubungan minat, motif dan pola menonton sinetron di televisi dengan perilaku hedonitas remaja. [skripsi]. Bogor[ID]:Institut Pertanian Bogor

Tumengkol I. 2009 (Agustus). Tayangan kekerasan di televisi dan perilaku remaja. Penelitian Komunikasi dan Pembangunan. 10(2)

[UU] Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Penyiaran.

Valentine HV. 2009. Efek berita criminal terhadap perilaku khalayak remaja (Kasus SMP Tamansiswa, Jakarta Pusat). [skripsi]. Bogor[ID]:Institut Pertanian Bogor

Vera N. Tidak Ada Tahun. Kekerasan dalam media massa; Perspektif kultivasi

Pengetahuan Konsumen

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday afternoon Departement of Family and Consumer Sciences-

Collage of Human Ecology-Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof.Ir.Ujang Sumarwan, MSc

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari perilaku konsumen

Oleh Lathiffida N.J Mayor SKPM (Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat) Collage of Human Ecology

 

  • Pengetahuan konsumen adalah sejumlah pengalaman atau informasi tentang sesuatu yang dialami konsumen dan tersimpan dalam memory konsumen.
  • Jenis-jenis:
  1. pengetahuan produk: pengetahuan tentang karakteristik produk.

    tingkat pengetahuan produk: kelas produk->bentuk produk->merek->model

    manfaat produk: fungsional, psikosional, postif dan negatif

    segmentasi manfaat: manfaat produk dapat dijadikan
    dasar untuk melakukan
    segmentasi
    konsumen dapat dibagi
    berdasarkan manfaat produk
    yang diinginkan

  2. pengetahuan pembelian: mengetahuai tentang toko, lokasi produk di dalam toko tersebut, penempatan produk di toko tersebut.
  3. pengetahuan pemakaian: penting untuk mengetahui manfaat dari produk tersebut jika produk dikonsumsi oleh konsumen.
  • Sikap dan kepercayaan merupakan pengetahuan tentang suatu objek sehingga dapat mengevaluasi objek tersebut dan dapat menunjukkan suka atau tidak suka terhadap objek tersebut
  • Karakteristik sikap:
  1. memiliki objek
  2. konsistensi sikap -> terkadang tidak sesuai dengan perilaku karena faktor tertentu
  3. intensitas sikap
  4. resistensi siakp: sikap akan berubah karena berlalunya waktu
  5. keyakinan sikap: kepercayaan mengenai kebenaran setiap yang dimilikinya
  6. sikap dan situasi: situasi mempengaruhi konsumen terhadap sesuatu
  • Fungsi sikap :
  1. utilitarian: yang dikomunikasikan adalah manfaat produk
  2. ego-devensif: melindungi seseorang dari keraguan yang muncul dari dalam dirinya
  3. sikap (mempertahankan ego)
  4. value-expressive: menyatakan nilai, gaya hidup, dan identitas dirinya
  5. ekspresi nilai
  6. pengetahuan
  • Strategi mengubah sikap: mengorganisasikan produk dengan peristiwa atau kelompok
  • Model sikap:
  1. kognitif: pengetahuan tentang suatu objek
  2. afektif : perasaan emosi terhadap suatu produk
  3. konatif: kecenderungan untuk melakukan sesuatu

 

PROSES BELAJAR KONSUMEN

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday afternoon Departement of Family and Consumer Sciences-

Collage of Human Ecology-Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof.Ir.Ujang Sumarwan, MSc

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari perilaku konsumen

Oleh Lathiffida N.J Mayor SKPM (Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat) Collage of Human Ecology

Proses belajar merupakan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan dan pengalaman dari konsumsi da pembelian yang akan diterapkan pada massa yang akan datang

Hal-hal penting:

  • proses yang berkelanjutan
  • pengalaman memainkan peranan dalam proses belajar
  • memiliki makna yang sangat kuat

Syarat proses belajar:

  • motivasi: daya dorong dari diri konsumen karena adanya kebutuhan
  • isyarat: stimulus yang mengarahkan motivasi mempengaruhi cara konsumen
  • respon: reaksi konsumen terhadap respon
  • pendorong: sesuatu yang meningkatkan konsumen untuk berperilaku pada masyarakat karena adanya stimulus

Jenis-jenis:

  • kognitif : proses  mental konsumen mempelajari informasi
  • perilaku: perubahan perilaku akibat pengalaman bukan akibat perubahan fisik
    *classical conditioning -> percobaan Pavlov
    *instrumental -> pengalaman membeli sesuatu berdasarkan reward yang dirasakan

Tiga penggunaan vicarious learning dalam strategi pemasaran

  • mengembangkan respon baru
  • mencegah respons yang tidak dikehendaki
  • memfasilitasi respon

BAB 4-Pengolahan Informasi

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday afternoon Departement of Family and Consumer Sciences-

Collage of Human Ecology-Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof.Ir.Ujang Sumarwan, MSc

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari perilaku konsumen

Oleh Lathiffida N.J Mayor SKPM (Sains Komunikasi Pengembangan Masyarakat) Collage of Human Ecology

Pengolahan informasi terjadi saat konsumen menerima input dalam stimulus, stimulus ini dapat dalam bentuk barang atau  produk, merek, iklan, dan nama produsen.

Proses pengolahan informasi dimana konsumen terekspos oleh informasi, pemahaman diletakkan kedalam memori dan diingat kembali

Terdapat 5 tahap informasi :

Pemaparan -> menyebabkan konsumen menyadari stimulus melalui pancaindra
Perhatian -> kapasitas yang disediakan konsumen terhadap stimulus yang masuk
Pemahaman -> usaha konsumen untuk mengartikan stimulus
Penerimaan -> menyimpulkan stimulus setelah 3 diatas
Retensi -> proses memindahkan informasi ke jangka panjang

Sensasi dipengaruhi oleh :
Ambang Absolut (The Absolute Thresold) -> jumlah minimum energi stimulus yang diperlukan konsumen agar merasakan sensasi
(titik seseorang merasakan perbedaan ‘ada’ & ‘tidak ada’ dari suatu stimulus)
Perbedaan Ambang (Differential threshold) -> batas perbedaan (different threshold)

Formulasi Model Weber => delta I=I x K
ket: delta I : JND, perbedaan terkecil dr intensitas stimulus ; I: intensitas stimulus ; K: konstanta proporsi jumlah perubahan dalam stimulus agar bisa dirasakan

Faktor stimulus : ukuran, warna, intensitas kemunculan, posisi yang strategis, petunjuk untuk mengarahkan konsumen, gerakan, isolasi yang menggunakan white space, stimulus yang disengaja, pemberi pesan yang menarik, perubahan gambar yang cepat

Tiga prinsip dalam perceptual organization:
– figure and ground : mengkontraskan dua gambar
– grouping : membuat kelompok
– closure : berusaha memahami suatu objek yang utuh

memori :
– sensory : sementara
– jangka pendek : memiliki kapasitas terbatas
– jangka panjang : kapasitas tidak terbatas

Kepribadian (Personality)

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday afternoon
Departement of Family and Consumer Sciences
Collage of Human Ecology - Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof.Ir Ujang Sumarwan, MSc

Session1 : www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Kepribadian
Oleh Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat)
Collage of Human Ecology

Kepribadian adalah bagian dari beberapa karakter. Kepribadian ini akan terkait
dengan perilaku. Sedangkan, arti dari
karakter itu sendiri adalah karakter psikologis yang paling dalam dan
merefleksikan bagaimana seseorang bereaksi
terhadap lingkungan sekitarnya. Jika dalam studi konsumen, kepribadian merupakan
respon konsumen terhadap rangsangan
dari lingkungan.

hal-hal yang berkaitan : - menggambarkan perbedaan Individu
                         - menunjukkan konsistensi & berlangsung lama
                         - dapat berubah

Teori Kepribadian
- Teori Freud : teori ini menyatakan bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga
unsur yang saling berinteraksi, yaitu
Id, Superego, dan Ego.
Id adalah aspek biologis dalam diri manusia yang sudah ada sejak lahir, seperti
lapar, haus , seks dll
Superego adalah aspek psikologis dalam diri manusia yang menggambarkan sifat
manusia untuk patuh terhadap norma dan peraturan
Ego adalah unsur yang dapat dikendalikan dan berfungsi sebagai penengah antara
Id dengan Superego.
-Teori Ciri (Trait Theory) : teori ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam
mengukur kepribadian konsumen dengan
mengelompokkan kedalam karakteristik yang paling menonjol.
Psikografis dalam perilaku konsumen
- Segmentasi Pasar berdasarkan : geografis
                                 demografis
                                 psikografis : gaya hidup, kepribadian, dan value
                                 behavioral
Definisi gaya hidup adalah pola bagaimana orang hidup dan menggunakan uang
dan waktunya.Gaya hidup sangat mempengaruhi pola konsumsi seseorang.
Terlihat dari pilihan barang-barang yang dikonsumsinya.

TUGAS DISKUSI!
kelompok : M. Indra
           Ratu Anna R
           Putri Rodiah S
           Pia Adelia
           Lathiffida N J
Hasil : 
A. Kesamaan karakter yang kami miliki baik karakter positif atau negatif
Positif : pemaaf, ramah, penolong, penghibur, penyayang
negatif : pelupa, pemalas, pesimis, ceroboh, curigaan
B. Gaya hidup masyarakat sekitar
Menurut kelompok kami, gaya hidup masyarakat Indonesia adalah konsumtif karena
setiap ada produk baru, pasti ada saja masyarakat yang langsung membeli tanpa
berpikir panjang.

Motivasi dan Kebutuhan

Consumer Behavior Class ( Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday afternoon

Departement of Family and Consumer Sciences – Collage of Human Ecology – Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof.Ir. Ujang Sumarwan, MSc

Session1 : http://www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari perilaku konsumen

Oleh Lathiffida N.J, Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat) – Collage of Human Ecology

Setiap manusia memiliki kebutuhan- kebutuhan yang harus dipenuhi. Kebutuhan – kebutuhan inilah yang mendorong konsumen untuk membeli barang dan jasa. Dalam pemenuhan kebutuhan konsumen disebut sebagai motivasi yang ada pada diri konsumen dan melatarbelakangi pembelian barang atau jasa yang dilakukan oleh konsumen. Pengertian dari motivasi itu sendiri adalah suatu faktor yang menimbulkan keinginan konsumen untuk mengkonsumsi barang atau jasa. salah satu faktornya adalah rasa kebutuhan akan suatu barang atau jasa untuk merasakan kenyamanan. Motivasi tercipta karena adanya rangsangan dari dalam diri seseorang, rangsangan ini terjadi karena adanya perbedaan antara yang dirasakan dan yang seharusnya dirasakan oleh konsumen, sehingga terpenuhinya kebutuhan konsumen.

Kebutuhan dapat muncul karena faktor diri konsumen sendiri (fisiologis) dan faktor luar konsumen. Faktor fisiologis atai biologis termasuk kedalam kebutuhan primer (primary needs) dan kebutuhan sekunder (acquired needs) yang meliputi. self-esteem, prestige, affection, power Kebutuhan yang dirasakan (felt needs) dapat dibagi berdasarkan manfaat yang dirasakan oleh konsumen setelah pembelian dan menggunakan barang atau jasa, yaitu utilitarian needs, hedonic needs or expressive needs.

Tujuan mengkonsumsi barang atau jasa yang dialakuakan oleh konsumen dibedakan menjadi 2 macam, yaitu tujuan generik (generic goals) dan tujuan produk spesifik (specific product goals).

Teori Maslow ( Maslow’s Hierarchy of Needs) membagi kebutuhan menjadi 5 tingkatan berdasarkan tingkat kepentingannya dimulai dari yang paling rendah , yaitu fisiologis, rasa aman dan keamanan, sosial, ego, dan aktualisasi diri. Menurut teori maslow manusia akan memenuhi kebutuhan fisiologis dahulu dan akan melanjutkan ke kebutuhan yang lebih tinggi.